Lampaui Target, Kemdiktisaintek Percepat Cetak Dokter Spesialis di Indonesia

Sabtu, 14 Februari 2026 | 20:25:10 WIB
Lampaui Target, Kemdiktisaintek Percepat Cetak Dokter Spesialis di Indonesia

JAKARTA - Langkah progresif diambil pemerintah guna membenahi krisis tenaga medis ahli di tanah air. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyetujui pembukaan 160 program pendidikan dokter spesialis dan subspesialis di berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta. Kebijakan ini diambil untuk menjawab kebutuhan mendesak dokter spesialis di Indonesia yang masih jauh dari angka ideal. Dengan penambahan kuota program studi ini, diharapkan hambatan distribusi dan ketersediaan dokter ahli yang selama ini membebani sistem kesehatan nasional dapat segera teratasi.

Capaian ini menjadi catatan penting karena realisasinya yang berada di atas ekspektasi. Direktur Kelembagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek RI, Mukhamad Najib, menyampaikan bahwa jumlah tersebut bahkan melampaui target awal yang dicanangkan pemerintah. Dari target 148 program pendidikan dokter spesialis baru, realisasinya telah mencapai 160 program studi. Hal ini menunjukkan keseriusan kementerian dalam mengeksekusi visi penguatan layanan kesehatan dari sektor hulu pendidikan.

Amanat Presiden Prabowo dalam Mempercepat Produksi Tenaga Medis

Percepatan pembukaan prodi ini merupakan respons langsung terhadap arahan pimpinan negara. “Dari target 148 program pendidikan dokter spesialis baru, kami telah menyetujui sebanyak 160 program studi baru,” kata Mukhamad Najib di Jakarta, Kamis. Ia menjelaskan, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan amanat agar jumlah dokter spesialis di Indonesia ditingkatkan secara signifikan. Selama ini, ketersediaan dokter spesialis dinilai masih sangat terbatas dibandingkan kebutuhan pelayanan kesehatan nasional.

Menindaklanjuti arahan tersebut, Presiden menargetkan pembukaan 148 program pendidikan dokter spesialis dan subspesialis guna mempercepat pencetakan tenaga medis ahli. Najib mengakui pada awalnya pihaknya meragukan target tersebut, mengingat tantangan yang tidak ringan dalam membuka program studi baru. Mengingat standar pendidikan kedokteran yang sangat ketat, membuka prodi spesialis membutuhkan persiapan infrastruktur, dosen, hingga rumah sakit pendidikan yang memadai.

Perincian Program dan Penunjukan Universitas Berkapasitas

Namun, sebagai amanat Presiden, Kemdiktisaintek terus melakukan percepatan dengan menunjuk sejumlah universitas yang dinilai memiliki kapasitas memadai. Hasilnya, hingga kini telah disetujui 160 program pendidikan dokter spesialis yang terdiri atas 128 program spesialis dan sisanya subspesialis. Penunjukan ini dilakukan melalui evaluasi mendalam untuk memastikan bahwa kualitas lulusan tetap terjaga meski dalam proses percepatan.

“Ini cukup berat, tapi setelah diupayakan dan menunjuk sejumlah universitas yang dianggap mampu, maka sampai saat ini sudah ada 160 program pendidikan dokter spesialis yang terdiri dari 128 spesialis dan sisanya sub-spesialis,” ujarnya. Najib berharap bertambahnya perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, yang membuka program tersebut dapat melahirkan dokter spesialis yang kompeten dan berkualitas untuk memperkuat sistem layanan kesehatan nasional. Penambahan ini juga diharapkan memecah konsentrasi pendidikan spesialis yang selama ini hanya terpusat pada beberapa institusi besar.

Komitmen Menciptakan Lingkungan Pendidikan yang Sehat

Selain mendorong percepatan pembukaan program studi, ia juga mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat bagi para peserta program pendidikan dokter spesialis (PPDS). Isu kesejahteraan mental dan kenyamanan para dokter yang sedang menempuh pendidikan menjadi fokus perhatian kementerian agar proses transformasi ini tidak memakan korban secara psikis.

“Jangan sampai ada perundungan, apalagi ada yang sampai bunuh diri, untuk itu, kami berpesan agar jangan sampai ada hal itu,” katanya saat meluncurkan program pendidikan dokter spesialis di Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, Universitas Katolik Atma Jaya, dan Universitas Pelita Harapan (UPH). Pesan ini menekankan bahwa kualitas pendidikan kedokteran tidak hanya diukur dari kurikulum yang ketat, tetapi juga pada sistem pendukung kemanusiaan yang sehat bagi para calon spesialis.

Tantangan Rasio Dokter Spesialis Terhadap Jumlah Penduduk

Upaya masif ini dilatarbelakangi oleh data yang cukup memprihatinkan terkait ketersediaan tenaga ahli medis di tanah air. jumlah dokter spesialis di Indonesia saat ini tercatat sekitar 51.949 orang, angka yang masih jauh dari kebutuhan ideal nasional. Dengan rasio ideal 0,28 dokter spesialis per 1.000 penduduk, Indonesia diperkirakan masih kekurangan sekitar 30.000 dokter spesialis untuk memenuhi standar pelayanan kesehatan yang merata.

Sementara itu, kapasitas produksi dokter spesialis melalui program pendidikan saat ini baru mencapai sekitar 2.700 lulusan per tahun. Angka tersebut masih jauh di bawah kebutuhan tahunan yang diperkirakan mencapai 32.000 dokter spesialis guna mengejar rasio ideal pelayanan kesehatan di Indonesia, seiring upaya pemerintah memperluas akses layanan medis berkualitas di berbagai daerah. Melalui pembukaan 160 prodi baru ini, gap antara ketersediaan dan kebutuhan diharapkan dapat dipersempit secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.

Terkini